Rumimengajak kita untuk melangkah lebih jauh, memaknai puasa secara transendental. Dengan menggunakan redaksi yang berbeda-beda, Rumi memandang puasa sebagai "jamuan rohani". Yaitu, asupan gizi yang sangat dibutuhkan jiwa manusia untuk menajamkan spiritualitasnya. Inilah puasa sebenarnya, bukan hanya sekedar tidak makan dan minum. MaulanaJalaluddin Rumi mengingatkan dalam sebuah syair puasa dalam Ghazaliat- nya, Telah datang bulan puasa. Petanda Raja telah tiba. Tahan sejenak makanan-makanan itu. Sebab makanan-makanan jiwa telah tiba. Hantarkan jiwa pada keyakinan. Tahan sejenak tabiat materi. Hati tersesat telah patah. Puisitentang Puasa . 18 April 2021 12:17 Diperbarui: 18 April 2021 12:48 238 5 0 + Laporkan Konten. Laporkan Akun. Lihat foto www.tribunnews.com. PUISI TENTANG PUASA. air hujan deras mengucur keras dari langit hitamlegam sesekali petir berkilat dengan suara menggelegar kata bmkg hujan disertai badai dan petir akan datang Cintaadalah hakekat agama yang mempersatukan seluruh umat manusia di dalam cahaya Keilahian. Berikut Intisari 50 Puisi Rumi Tentang Cinta, Keilahian, dan Kehidupan yang dirangkum Tribun Medan dari 1. Aku bukanlah orang Nasrani, Aku bukanlah orang Yahudi, Aku bukanlah orang Majusi, dan Aku bukanlah orang Islam. . Jalaluddin Rumi Muhammad bin Husin al-Khattabi al-Balkhi, dilahirkan di Balkh tanggal 6 Rabi’ulawal 604 H/30 September 1207 M. Ayahnya bernama Bahauddin Walad seorang hakim yang memiliki garis keturunan sampai Sayidina Abu Bakar ash-Shiddiq—sahabat senior Nabi Muhammad sufi termasuk Rumi menyadari betul bahwa pengalaman spiritual itu tidak bisa ditransfer secara menyeluruh dengan bahasa sehari-hari, maka mereka lebih memilih menggunakan bahasa sandi atau bahasa simbol, sebagaimana yang diungkapkan oleh Imam Junaid al-Baghdadi, “Ucapan kami para sufi adalah simbol dan isyarat”.Ibn Arabi di dalam Al-Futūẖāt memberikan penjelasan terkait kenapa para guru sufi memilih bahasa simbolis/isyarat saat membagi pengalaman spiritual mereka? Apa problem bahasa religius yang mereka hadapi? Serta apa dasar mereka memilih bahasa simbol/isyarat?Menurut Ibn Arabi, “Yang dilakukan oleh sahabat-sahabat kami—para guru sufi—yang lebih memilih untuk menggunakan bahasa isyarat itu atas dasar Al-Qur’an sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Sayyidah Maryam saat berhadapan dengan para pendusta, Maryam menunjuk kepada bayinya bagaikan berkata, “Tanyalah anak ini Nabi Isa as., dia akan menjawab, dia akan menjelaskan kepada kamu duduk soalnya!”. Mereka kaumnya berkata “Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?” Dia Nabi Isa putra Maryam., seketika itu masih bayi berkata “Sesungguhnya aku adalah hamba Allah, Dia telah pasti akan memberiku al-Kitab Injil dan Dia telah pasti akan menjadikan aku seorang Nabi” QS. Maryam [19]29-30. Karena itu, ungkapan/perkataan sahabat-sahabat kami berupa bahasa simbol/isyarat-isyarat, walaupun sejatinya ungkapan mereka itu hakikatnya adalah tafsir dari Kitab Suci yang penuh dengan kemanfaatan. Walau pun demikian, mereka enggan menyebutnya sebagai penjelas tafsir. Dikarenakan, agar mereka terlindungi dari ancaman ulama fikih dan agar tidak mendapatkan tuduhan kafir dari atas dasar itu, Rumi menjadikan puisi sebagai sarana untuk menyampaikan ide mistiknya. Karyanya yang paling terkenal ialah Al-Mastnawi al-Maknawi, terdiri enam jilid yang memuat bait syair mistik dan 424 dengan puasa, di dalam salah satu syair mistiknya, Rumi berkataTahanlah bibirmu dari makan dan minum, bergegaslah menyambut hidangan syair yang lain Rumi berkataKetika kau kosongkan perutmu dari makanan, maka ia akan dipenuhi oleh perhiasan potongan syair di atas menunjukan, Rumi dengan tegas menjadikan puasa sebagai wasilah untuk melahap makanan rohani yang suci. Nyatanya demikian. Ketika perut kita terpenuhi oleh makanan-makanan jasadi efeknya menjadi lemas dan membuat daya analisis kita rendah atau tumpul serta syahwat bengis akan muncul dalam jiwa kita. Hal yang sama juga ketika pikiran kita fokus dengan hal-hal yang bersifat fisik/jasadi, maka kita secara tidak sadar telah menghijab diri kita untuk memikirkan dan mengakses pengetahuan spiritual yang amat dasyat itu. Berkenaan dengan ini, Yahya bin Mu’azd bernah berkata, “Lapar itu seperti cahaya, kenyang bagaikan api, dan syahwat itu diibaratkan kayu yang dapat dibakar yang apinya tidak akan mati sebelum membakar pemiliknya”.Imam al-Qusyairi guru sufi sebelum Rumi dalam Ar-Risālah, Bab Al-Jau’ wa Tark al-Syahwat mencatat Rasulullah teladan utama para sufi termasuk Rumi menjadikan puasa mengosongkan makanan merupakan aktivitas yang sering Anas bin Malik, dikisahkan, “Fatimah pernah membawakan potongan roti kepada Nabi. Singkat cerita, Nabi berkata kepada Fatimah, Potongan Roti ini adalah makanan pertama yang masuk ke perut ayahmu selama tiga hari'”.Estafet ritus puasa untuk dapat mengakses hidangan langit dan pengetahuan sejati dilanjutkan oleh para guru sufi lainnya. Imam al-Qusyairi melaporkan, Sahal al-Tustari bernah berkata, “Ketika Allah menciptakan dunia, Dia menjadikan kenyang untuk kemaksiatan dan kebodohan, dan menjadikan lapar untuk ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan”. Di dalam ucapan yang lainnya, Sahal al-Tustari berkata, “Jika aku lapar akan menjadi kuat dan jika ia makan ia menjadi lemah”.Imam Al-Qusyairi mencatat salah satu mutiara hikmah Syekh Muzhaffar ialah, “Lapar jika dibarengi dengan qana’ah, akan menjadi ladang pemikiran, sumber hikmah dan kehidupan cerdas, dan pelita hati“.Memaknai puasa seperti ini akan berdampak pada transformasi diri, sehingga setiap menjalani perjalanan kehidupan kita bisa menangkap pesan-pesan Tuhan yang terkandung di balik peristiwa yang kita alami. Dengan bercermin pada pandangan Rumi dan para guru sufi yang lainnya terkait puasa, akan membawa kita untuk lebih sigap lagi dalam mempersiapkan diri isti’dād dalam menangkap ilmu Tuhan yang begitu luas. Inilah renungan Maulana Jalaluddin Rumi terkait puasa yang memiliki kesamaan dengan para guru sufi sebelumnya. Sumber BacaanAbul Qāsim Abdul Karīm bin Hawāzin al-Qusyairī, Ar-Risālah al-Qusyairiyyah, diedit oleh Aẖmad Hāsyim al-Salamī, Beirut Dār al-Kutub Al-Ilmiyyah, al-Dīn Ibn Arabī, Al-Futūẖāt al-Makkiyyah, diedit oleh Aẖmad Syamsuddīn. Beirut Dār al-Kutub al-Ilmiyah, Ahmad, Ngaji Rumi Kitab Cinta dan Ayat-Ayat Sufistik, Bandung 2021. Sedentum datangnya, tenang dirasa Sepercik perginya, hilang bermasa Halakan tinggi, tiada terperi Puncaknya iman, tinggalkan diri Bukan nak membandingkan dua kata “puasa” dan “puisi” dalam tulisan ini. Apalagi nak menyamakannya, tentu tak kan sampai sebab beda makna dan tentu saja beda secara hakikat. Meskipun dua kata tersebut, hanya dibedakan pada dua bunyi huruf vokal “a” dan “i” saja. Tetapi agaknya, bila memandangkan pada sisi proses menjalaninya, bolehlah diuraikan kesamaan yang ada. Pada dasarnya, kedua kata ini menurut hemat saya, memiliki muara yang seharusnya sama. Menggenang ia di hamparan rasa. Rasa hening, senyap, takzim yang serba memuncak dan disitulah momen esetetiknya. Sejatinya, setiap momen estetik yang ditangkap, dijalani, diyakinkan dapat dijadikan sarana untuk menggapai pengalaman religius. Ada momen yang berbeda dari keseharian kita, pabila berpuasa dan juga berpuisi. Keduanya, puasa dan puisi hendaknya dijalankan dengan penuh penghayatan dan pengalaman. Sehingga menjadikan tiap laku dalam proses tersebut mendatangkan kebaharuan dan kesegaran jiwa. Puasa dijalani sebagai ibadah di bulan Ramadan, dengan segenap penghayatan diri dalam melakukannya, termasuk ibadah-ibadah yang turut serta di hari baik dan bulan baik tersebut. Dengannya maka mendatangkan pengalaman hidup yang serba optimis, nyaman dan damai. Puisi dihadirkan sang penyair juga demikian, penghayatan akan tiap-tiap momen kehidupan, dirasakan, disarikan, diekstrak menjadi bahasa-bahasa puitik untuk membangkitkan atau bahkan merefresh pengalaman-pengalaman hidup baik bagi diri penyair, pun bagi pembaca. Ketika sedang berpuasa, kita diwajibkan menahan diri. Menahan mulut untuk tidak mengumbar kata-kata yang tidak perfaedah, perbanyak zikir,doa dan tadarus, mempercakapkan hal-hal yang serba ranum dan indah dalam pencapaian hakiki. Menahan telinga dari mendengar kabar-kabar yang tidak baik, mendekatkan pendengaran pada gelombang suara yang memilik frekuensi serba keesaan. Menahan hidung dari membaui hal yang membangkitkan selera, mengakrabi keharuman akhirat ketimbang duniawi. Menahan lapar dan haus, agar sisi di dalam diri terbangun dengan segala kepekaan terhadap alam dan sekitarnya. Menahan hati dari serbuan godaan nafsu, memagarinya dengan segenap kerelaan dan keihklasan dalam menjalani ibadah yang kesemuanya mengarah vertikal. Disinilah puncaknya, kenikmatan yang maha nikmat. Proses kelahiran puisi, sejatinya juga demikian, menurut fikir hamba yang fakir ini. Semua bermula dari penahanan seluruh indra yang dimiliki terhadap selerak fenomena yang wajib untuk disingkap dan disimpan. Dalam proses penahan itulah kemudian, semuanya dikemas, diolah agar kemudian bait-bait yang lahir dari getaran di dalam, sehingga yang tampak tersusun kemudian tidak hanya keindahan bunyi belaka, tidak permainan kata semata, akan tetapi juga adalah sumber getaran itu sendiri. Di sini jualah kenikmatan yang sesungguhnya dapat dirasa dari kelahiran puisi. Bukan pada decak kagum, tepuk tangan, komentar pujian, bahkan cacian dan hinaan yang kesemua itu pun perlu proses penahanan diri menerimanya agar kejujuran dalam membahasakannya tidak tergadai. Agar puisi yang lahir tidak semata-mata hanya karena telah berhasil memilih kata-kata puitik belaka. Serupalah berpuasa, bila tidak mampu menahan diri, hanya akan mendapat sebatas haus dan lapar saja. Dengan demikian, dapat pula dikatakan berpuasa dan berpuisi adalah titik di mana pengalaman religius seseorang sedang ditempa. Menghidupkan fantasi tentang sesuatu yang jauh, yang kekal, yang serba maha. Semuanya menggenang dalam pengalaman batin seseorang yang sanggup menjalaninya. Kedua proses itu pun kemudian dijalani sekaligus mempertegas subjek yang tampil sebagai si penghayat kehidupan itu sendiri. Bukankah proses yang coba dipaparkan di atas, kiranya akan membawa seseorang pada transformasi batin dan penyempurnaan rohani. Hal ini, bila tak salah dikatakan sangatlah dekat dengan ajaran-ajaran tasawuf sufi, mengedepankan nilai-nilai kearifan dan kebaikan di dalam aspek kehidupan, baik yang bersifat ibadah maupun muamalah. Tak heran kemudian ada banyak penyair sufi besar dalam sejarah Islam memuat prihal puasa di dalam abit-bait puisinya. Sebut saja salah satunya, Maulana Jalaluddin Rumi. Mengutip penggal puisi dalam kitab “Matsnawi,” Rumi pernah menulis tentang esensi puasa. Ketika mulut ini tertutup, maka akan terbukalah mulut lainnya // Untuk bersiap menerima jamuan-jamuan rahasia Jilid III, bait 3747. Secara sederhana dapat dijelaskan dari bait di atas, bahwa tatkala kita berpuasa, menjadi kewajiban untuk menahan atau menutup mulut lahiriah kita, artinya tidak makan dan minum sampai batas waktu yang telah ditentukan. Terang di bait tersebut, Rumi menyatakan, tatkala mulut lahiriah kita tertutup, maka mulut batiniah kita akan terbuka. Tafsir sederhanya, terkait dengan jamuan-jamuan rahasia dalam puisi di atas adalah bisa saja jamuan yang bersifat rohani, yang jauh lebih nikmat dari sekadar hidangan juadah makanan dan minuman. Dengan demikian, esensi puasa bagi penyair adalah untuk mencapai tersingkapnya penghalang yang menutupi penglihatan batin manusia. Dengan berpuasa, mata batin dan kepekaan manusia kiranya akan lebih terasah dan tajam sehingga hikmah-hikmah tentang hidup dan kehidupan dengan lebih mudah kita dapatkan. Selain Maulana Jalaluddin Rumi, penyair Syekh Hamzah Fansuri juga banyak menulis tentang anjuran untuk berpuasa dalam puisi-puisinya. Mengutip penggal puisi dalam kitab “Asrar al-’Arifin”, Syekh Hamzah Fansuri menuliskan jangan bermaqam di ubun-ubun atau di pucuk hidung // atau di antara kening atau di dalam jantung // sekalian itu hijab kepada Dzat-Nya. Atau dalam bait yang lain Hamzah Fansuri juga menegaskan “hapuskan akal dan rasamu //lenyapkan badan dan nyawamu // pejamkan hendak kedua matamu // sana kau lihat permai rupam.” Penggal bait pertama dari puisi di atas dapat dimaknai bahwa upaya mendekatkan diri kepada Tuhan dapat dicapai dengan cara melawan hawa nafsu. Nafsu yang bermaqam di ubun-ubun atau mengisyaratkan berupa pikiran liar atau buruk ataupun nafsu di pucuk hidung atau segala yang berkaitan dengan aroma dari tangkapan penciuman termasuk di dalamnya makanan dan minuman. Pada penggal bait yang kedua yang dikutip, hapuskan akal dan rasamu, merujuk pada pikiran buruk dan nafsu yang berkaitan dengan rasa alami manusia. tersebab, hal-hal itu adalah penghalang untuk lebih dekat kepada Allah. Sedangkan untuk mengetahui ”rahasia-rahasia” Allah, tutuplah mata yang kasat ini, maka akan terang dilihat siapa diri sesungguhnya di dahapan Sang Pencipta yaitu manusia yang lebih baik, manusia yang jauh lebih elok, di sisi Allah maupun di mata sesama manusia. Tamsilan puisi di atas menurut hemat hamba, mampu mengajak kita untuk mengolah rasa cinta bagi penulis dan juga pembaca. Dengan demikian, tatkala para penyair sufi menulis puisi tentang puasa, puisi-puisi tersebut bertujuan diantaranya agar membangkitkan ilham pembaca melalui penafsiran rohaniahnya. Diharapkan pula pembaca tergugah untuk menyelami esensi dari ibadah puasa. Tulisan ini disudahi dengan keterbatasan pemahaman lainnya yang barangkali bisa saja lebih mendalam. Tetapi sepertimana yang telah disampaikan di awal kata, upaya untuk menelisik persamaan dalam hal proses di antara keduanya adalah upaya diri penulis untuk lebih bisa menjalani ibadah puasa di tahun ini lebih baik sekaligus memperkuat kehendak berpuisi dalam diri agar mampu melahirkan kreatifitas yang lebih bermanfaat. Apalagi misalnya, dalam “pembacaan” hamba, memang sudah dua tahun belakangan, ibadah puasa di bulan Ramadan menjadi agak lebih berat diakibatkan masa pandemi dan juga wacana-wacana keIslaman yang disuguhkan ke publik, cukup membuat kita selaku masyarakat awam merasa tidak nyaman. Demikian juga halnya dengan berpuisi, khususnya bagi diri, adakalanya menulis dirasa lepas dari esensi. Untuk itulah tulisan ini dirangkai. Wallahualambissawab. Demikian fikir dirangkai Banyak hal pula belum terungkai Hanyalah diri hendak memulai Kurangnya jangan, diintai-intai Jefri al Malay Sastrawan Riau. Berkhidmat sebagai tenaga pengajar di Fakultas Ilmu Budaya Prodi Sastra Melayu Universitas Lancang Kuning. Puisi Ramadhan dan Corona Singkat, Sedih, Menyentuh Hati Telah lama kita menunggu bulan Ramadhan. Mengenang kembali Kerinduan dan kesyahduan. Kita beribadah bersama keluarga, masyarakat, tetangga, Negara, Bahkan bersama orang-orang sedunia. Namun Ramadhan tahun ini agak berbeda. Di tengah melandanya virus Corona. Kita tidak lagi bisa bersama-sama berbuka, di masjid seperti biasanya. Akan tetapi kita beribadah di rumah masing-masing. Buka bersama keluarga, shalat tarawih di rumah saja, begitu tadarus dan kegiatan-kegiatan lainnya. Kita akan selalu mengenang Ramadhan di tahun ini. Sebab manusia yang biasanya keluar rumah berjalan jalan, kini mereka harus tinggal di rumah masing-masing. Puisi Ramadhan Yang Kurindu Lama sudah aku menunggu Suasana Ramadhan yang begitu syahdu Mendekatkan diri kepada rabbul Izzati Sepanjang siang sepanjang hari. Bila magrib telah tiba Dan adzan telah berkumandang Di sanalah nikmat mulai terasa Seteguk air hilangkan dahaga. Bersama-sama buka puasa Bersama handai taulan dan keluarga Segenap jiwa merasa bahagia Atas nikmat dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Tarawih Tadarus Di surau yang kecil itu Ketika masa kanak-kanak dahulu Di sana lah kami belajar Shalat Tarawih di bulan Ramadhan. Surau kecil begitu ramai Berkumpul semua tetangga Shalat tarawih berjamaah Rasa hati begitu damai. Jika tarawih telah selesai Berkumpul kami mengambil Alquran Duduk kami melantunkan satu juz hingga usai. Itulah kenangan dahulu Di surau kecil penuh kenangan Diterangi oleh lampu Lampu minyak cahaya Temaram. Puisi Ramadhan Di Kampung Bila Ramadhan tiba Meneteskan air mata Semua orang bergembira Menyambut ibadah puasa. Orang sekampung berbahagia Masjid-masjid bersih semua Demi menyambut tamu mulia Bulan Ramadhan yang penuh berkah. Ramai masjid dan mushola Berkumpul ramai anak muda Datang lebih awal orang orang tua Untuk menikmati ibadah bulan puasa. Dari rumah terdengar lantunan Orang-orang yang membaca Alquran Seluruh kampung mendapat keberkahan Dengan datangnya Bulan Ramadhan. Ramadhan dan Corona Tahun ini tahun yang berbeda Walau Ramadhan telah tiba Semua karena virus Corona Yang sedang melanda seantero dunia. Masjid-masjid lebih sepi Orang-orang mengurung diri Beribadah di dalam rumah Agar korona tidak tersebar ke mana-mana. Mari kita berdiam diri Jangan sembarangan pergi pergi Sebab corona bisa menyakiti Siapa saja di negeri ini. Banyak Berdoa Di Bulan Ramadhan Jangan tinggalkan puasa Ramadhan Walaupun apa yang terjadi Ini adalah kesempatan Untuk kita perbaiki diri. Tinggalkan segala maksiat Jangan pernah diteruskan Supaya jangan kita tersesat Buka lembar dosa terjerumuskan. Walau banyak salah dan dosa Datanglah kita kepada-Nya Memohon ampunan Dari segala kesalahan Banyak-banyak kita berdoa Untuk dunia dan akhirat kita Semoga kita diberi kemudahan dalam ibadah dan kehidupan. Puisi Larangan Mudik Pemerintah telah menetapkan bahwa pada tahun ini masyarakat dilarang mudik. Terutama mereka yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya, seperti Bekasi, Depok, Bogor. Hal tersebut bertujuan agar mata rantai virus korona dapat diputus. Tentunya larangan ini merupakan sesuatu yang menyedihkan. Karena sebagian kita tidak bisa berkumpul lagi dengan keluarga yang ada di kampung. . . Tak Bisa Pulang Kampung Gagal sudah semua rencana Pulang kampung di bulan puasa Untuk menemui orang tua Memberi hadiah kepada saudara-saudara. Sedih di hati mulai terasa Menitik pula air mata Dengan saudara tak bisa bersua Padahal rindu menggebu di dalam dada. Kalau pulang kampung dipaksakan Akan tersebar virus corona Mata rantai tak terputuskan Pandemic Corona tak sudah-sudah. Jangan Mudik Saudara-saudaraku yang di rantau Tentu engkau dilanda rindu Pada suasana desa Kampung tempat lahirmu. Kami juga sudah rindu Lama rasanya tak bertemu Tapi tahan lada terlebih dahulu Sebab korona belum berlalu. Kalau aturan tak diindahkan Virus Corona makin tersebar Sudah banyak kematian Harap engkau memilih sabar. Jangan engkau mudik dahulu Sebelum virus Corona berlalu Begitulah cara kita menjaga Orang-orang yang kita cinta. Puisi Ramadhan Yang Sedih Ramadhan telah datang lagi Tak terasa setahun telah berlalu Duduk termenung di hari ini Rupanya telah tua usiaku. Belum banyak amal ibadah Yang kupersembahkan kepada-Nya Ku terima segala nikmat-Nya Sedangkan aku mengirimkan dosa. Bulan suci Ramadhan Janji di hati untuk berubah Kepadanya aku memohon Mengampuni segala salah. Khilaf dan Dosa Ya Allah Ramadhan-Mu telah kembali Mengapa jiwaku yang begitu sepi Tertutupi debu-debu dosa Dipenuhi nafsu angkara murka. Diantara milyaran manusia Inilah aku seorang hamba Yang berjalan tertatih-tatih Menujumu walaupun sedih. Aku tahu Engkau penyayang Namun diriku mengabaikan Aku tahu azab yang Pedih Namun diriku sibuk dengan dunia ini. Ampunilah dosa-dosaku Khilaf dan dosa yang menggunung Kepada siapa lagi aku mengadu Aku tersesat hatiku bingung. Pada-Mu jua aku kembali Meletakkan segala Harapan Perih hati karena dosa Yang kuharap adalah ampunan. Ramadhan Harapan Ketika senja telah tiba Ramadhan berkah mulai menyapa menjadi sebuah harapan tuk segenap, seluruh insan. Letih sudah jiwa ini Menapaki hari-hari Bergelimang dengan dosa Membuat jiwa penuh nestapa. Kuatkan diriku untuk hijrah Tancapkan keyakinan pada diri hamba tentang janjimu yang Engkau sampaikan. Bahwa betapapun aku berdosa Kan kau berikan ampunan. Harapan Tuk Berbagi Maaf Bulan suci telah datang Keberkahan telah menjelang Ketika senja memerah Di situlah awal bulan puasa. Dari hati yang paling dalam Kami sekeluarga mengucapkan Marhaban Ya Ramadhan Kepada saudara mohon kemaafan. Mari sambut bulan yang suci Bersihkan diri dari iri dengki Ganti dengan kasih sayang Kepada sesama kita mendoakan. Kumpulan Puisi Ramadhan 2020 Menyambut bulan Ramadhan, dan tentunya gembira. Inilah bulan di mana dibuka pintu surga. Alangkah betapa mereka yang berbuat dosa, tak merasakan nikmatnya bulan mulia. Janganlah kita angkuh. Bukankah sebentar lagi kejayaan kita akan runtuh? Berikut ini puisi dengan berbagai tema di bulan orang Ramadhan. Semoga dengan puisi ini akan menambah semangat beribadah. . . Inilah Hamba-Mu Ya Allah Inilah hambaMu datang kembali Dengan jiwa yang penuh luka Dipenuhi dengan debu-debu dosa. Aku tersesat jauh sekali Kusangka dirimu mengejar kebahagiaan Rupanya hanya fatamorgana Dan juga kesengsaraan. Semakin jauh dari diri-Mu Semakin jauh dari ketenangan Hanya bersahabat dengan kegelisahan Dan Ambisi yang tak pernah padam. Kemana lagi kaki melangkah Sedangkan umur terus mengajar Raga semakin tergerus usia Tak lama lagi datang senja Kepada-Mu jua aku kembali Entah esok atau lusa Tak mampu aku kembali Kepada alam dunia. Selanjutnya Ramadhan Bikin Nangis Puisi Idul Fitri . . Meskipun dalam keadaan yang memprihatinkan, tetaplah kita bersyukur. Semoga kumpulan puisi ramadhan di atas, salah satu cara untuk menghibur. puisi menjelang Ramadan . Gambar unsplash/Mangkuk indah penuh buah kurma melambangkan RamadhanBulan Ramadan sudah dekat, pasti kamu sangat bersemangat menyambutnya. Bulan istimewa yang hanya datang satu tahun sekali. Berikut ini kumpulan puisi menjelang Ramadan dengan arti mendalam sebagai refleksi untuk menyambut bulan Menjelang RamadanInilah 3 puisi menjelang ramadhan yang dikutip dari bukuHal-Hal Langit Kumpulan Puisi, Ramadhan. A, 2020 5 – 13.Bulan malam ini tertutup mendung, aku sudah lama menunggumuTahun lalu banyak hal kusesali, aku mengabaikanmu dengan mudahnyaPadahal kesempatan tidak datang dua kali, senangnya dapat menemui yang keduaMendung berubah menjadi gerimis, kudengar degupan jantungku semakin kencangBegini rasanya bertarung dengan waktu, ketika mataku samar-samar melihat bulan ituSelamat datang bulan Ramadan, aku tidak akan menyia-nyiakan setiap detik bersamamuPuisi dengan judul Bulan yang Kunantikan, memiliki dua arti tentang penyesalan dan kegembiraan. Penyesalan karena di tahun sebelumnya tidak maksimal dalam menjalani ibadah puasa. Namun, kabar gembira yang dinanti masih diberi kesempatan untuk melaksanakan ibadah puasa di tahun yang tertera di bait ketiga, jika kesempatan tidak datang dua kali. Ditutup pada bait terakhir, saat menjalankan ibadah puasa nanti untuk memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, karena di tahun ini juga banyak dari saudara sekitar yang sudah tidak diberi kesempatan untuk bertemu dengan bulan pandemi datang semua terasa berbedaBegitupun bulan Ramadan datang dengan suasana baruKetika suara azan isya terdengar langkah kakiku bergerak menuju masjidBegitupun pandemi menghetikan langkahku yang hanya beribadah di rumahKetika suasana sore menjelang malam banyak orang menghampiri pedagangBegitu terdengar kabar adanya pandemi pedagang pun tidak muncul di pasarWalaupun ada perbedaan sebelum dan sesudah pandemiSemangatku tetap sama untuk menyambut bulan RamadanKarena menjalani puasa di bulan Ramadan bukan tentang perbedaan suasanaNamun apakah aku bisa lebih baik ibadahnya dibanding Ramadan sebelumnyaPuisi yang menceritakan keadaan bulan Ramadan, bagaimana sebelum dan saat pandemi covid-19. Tapi inti dari ibadah puasa di bulan Ramadan sendiri, bukan perkara suasananya yang berubah jadi sepi. Melainkan niat dan semangat dalam menjalankan ibadahnya, sehingga judul puisinya Niat dalam ingat dengan jelas bagaimana riuh suara tetangga membangunkan saurAku juga ingat anak-anak berlarian menuju masjid untuk makan takjil bersamaAku ingat orang-orang yang fokus menyimak ceramah sewaktu tarawihAku ingat sebelum tidur selalu melantunkan bacaan Al-QuranIngatan tentang bulan Ramadan membuatku tidak sabar bertemu dengannyaPuisi ini mengingatkan setiap orang bagaimana budaya Ramadan di Indonesia berlangsung. Kebersamaan lebih kuat dibandingkan bulan-bulan biasanya, semangat beribadah lebih kencang dari bulan-bulan sebelumnya. Begitulah istimewanya Ramadan, bulan yang mampu membawa ketenangan dan kegembiraan untuk orang-orang yang sedang 3 kumpulan puisi menjelang Ramadan di atas dapat menambah ketenangan dan semangat ketika menjalani puasa nanti ya!

puisi rumi tentang puasa